Senin, 05 Maret 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Hati-hatilah dengan jilbab ketat mu wahai saudari ku....
Jilbab bukanlah sekedar penutup kepala,bukan pula sebagai aksesoris atau penutup kekurangan wajah...jilbab adalah kehormatan,jilbab adalah penutup aurat bukan pembungkus aurat.Jilbab Allah perintahkan kepada para wanita muslimah sebagai pelindung agar tidak diganggu,sebagai identitas agar lebih mudah dikenal bahwa kita seorang muslimah.Menutup aurat adalah hal wajib yang Allah firmankan dalam QS.Al-Ahzab:59 dan An Nuur:31.Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan.hukum menutup wajah adalah Mustahab(dianjurkan)(lihat:;ilbab Al Mar'ah Al muslimah.Amru Abdul Mun'im hal:4)
Adapun syarat pakaian seorang wanita yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang telah disampaikan leh para ulama yang mengacu kepada Al qur'an dan hadist-hadits shahih diantaranya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah:
1.Pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.telapak kaki juga harus tertutupi. 2.Bukan pakaian untuk berhias(seperti ada bunga-bunga,gambar makhluk bernyawa atau bahkan lambang partai politik yang dapat menimbulkan perpecahan.
Firman Allah: "Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu bertabarruj(berhias)seperti orang-orang jahiliyyah pertama(QS.Al Ahzab:33).
Ingatlah bahwa perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan wanita,jadi sungguh aneh apabila pada kenyataannya banyak wanita berjilbab dengan memakai aneka perhiasan.
3.Pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang,tidak ketat.pakaian muslimah harus longgar tidak menampakkan lekuk tubuh yang dapat mengundang syahwat lelaki.
4.Tidak memakai wewangian atau parfum.
Dari Abu MusaAl-Asy'ary bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Perempuan mana saja yang memakai wewangian,lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya,maka ia adalah wanita pezina."(HR.An Nasa'i,Abu Daud,Tirmidzi dan Ahmad).
5. Tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu berkata:
Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria."(HR.Bukhari no : 6834). Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda :
Barang siapa menyerupai suatu kaum ,maka ia termasuk bagian dari mereka.(HR Ahmad dan Abu Dawud).
6.Bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas(pakaian syuhroh) Dari Abdullah bin 'Umar
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzxUtSo8SfawkH_TIr5Zpucs3ptVchfZqKDvTKqWb4a00qrF8cllrddXrVTxvk_LXOb1HixJw1vH98VfRevJln6pNRvVAHi1usBVpEqVUL6ks98dexmk0vv8q62pv5NFTk4BlK5QP9c_Y/s1600/Copy+of+Punuk+Unta+2.jpg
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Saat
ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita
sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka
atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun,
sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai
celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.
Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan
semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun
lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat
akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,
“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia
telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga
dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan
perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya
adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah.
Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan
kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun
dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk
menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzxUtSo8SfawkH_TIr5Zpucs3ptVchfZqKDvTKqWb4a00qrF8cllrddXrVTxvk_LXOb1HixJw1vH98VfRevJln6pNRvVAHi1usBVpEqVUL6ks98dexmk0vv8q62pv5NFTk4BlK5QP9c_Y/s1600/Copy+of+Punuk+Unta+2.jpg
Hati-hati Jilbab Seperti Punuk Unta
Akibat Korban Mode
Sudah berjilbab saja masuk neraka, apalagi yang enggan memakai jilbab.
Sudah berjilbab saja masuk neraka, apalagi yang enggan memakai jilbab.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ
الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ
مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:
1. Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan,
2. Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
(HR. Muslim no. 2128)

Saat
ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita
sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka
atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun,
sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai
celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.
Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan
semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun
lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat
akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini. Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ
كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ
عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ
الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ
رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Hadits
ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di
zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam
ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.
Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’
An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua:
wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan
tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan
kepada Allah.
Makna ketiga:
wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan
keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi
telanjang.
Makna keempat:
wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam
tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.
(Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Pengertian
yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada
yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama
lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,
“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia
telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga
dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan
perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya
adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah.
Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan
kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun
dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk
menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Pertama:
wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam
tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya
dia telanjang.
Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)
Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat
dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak
bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang
wajib dia tutup.
Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini
Lihatlah
ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi
sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Jika
ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka
auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis?
Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain?
Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi?
Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi?
Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!
Sadarlah,
wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan
Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih
baik ....
Baca artikel selanjutnya "Syarat-syarat Pakaian Muslimah yang Sempurna"
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
Dikirim ulang oleh Anwar Baru Belajar dengan perubahan judul.Rabu, 25 Januari 2012
Untuk mu ukhti muslimah
Wahai ukhti muslimah siapa yang menyuruh mu untuk berjilbab?.......Allah dan RasulNya yang menyuruh kalian untuk berjilbab.......
Firman Allah : Wahai Nabi!Katakan kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali,sehingga mereka tidak diganggu.Dan Allah Maha Pengampun,Maha Penyayang.(QS:Al-Ahzab:59)
Sabda Nabi : dari Abu Hurairah r.a : Ada dua macam penduduk neraka yang keduanya belum terlihat olehku.
1) kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi,yang dipergunakannya untuk memukul orang. 2) Wanita-wanita berpakaian,tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim,tipis,atau tembus pandang,ketat atau pakaian yang merangsang pria karena sebagaian auratnya terbuka),dan wanita-wanita yang mudah dirayu atau suka merayu,rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta.Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga,bahkan tidak dapat mencium bau surga.Padahal bau surga dapat terciumdari jarak yang sangat jauh.(HR MUSLIM : 2004)
griya hijab syar'i
Langganan:
Postingan (Atom)







